“"Chevy Lovers" Makin Doyan ke Bengkel Resmi” plus 2 more

Rabu, 11 September 2013

“"Chevy Lovers" Makin Doyan ke Bengkel Resmi” plus 2 more


"Chevy Lovers" Makin Doyan ke Bengkel Resmi

Posted:

Jakarta, KompasOtomotif - Chevrolet Indonesia bisa  tersenyum tahun ini! Pasalnya, merek asal Amerika Serikat ini berhasil memperbesar jumlah konsumen yang masuk ke bengkel resmi.

"Sampai sekarang masih tersenyum! Sampai akhir tahun saya perkirakan, 90.000 mobil konsumen kembali ke bengkel resmi kami," jelas Dadan Ramadhani, Customer Care Director PT GM Indonesia di sela Chevy Writing Award di Hotel Darmawangsa, Jakarta Selatan, hari ini (11/9/2013). Jumlah ini naik 36,3 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya, 66.000 unit mobil.

Dijelaskan, konsumen yang masuk ke bengkel resmi mencerminkan populasi pemilik Chevrolet  dalam 8 tahun terakhir naik 15 persen. "Konsumen ke bengkel mayoritas Captiva dan belum termasuk Spin. Pasalnya, Spin baru diluncurkan, belum perlu kembali ke bengkel," beber Dadan.

Dengan bertambahnya penjualan Spin, tahun depan konsumen mulai berdatangan ke bengkel resmi. "Tahun ini kami sudah masuk peringkat ketiga Indeks Kepuasan Pelanggan dari JD Power. Saya yakin, tahun depan, konsumen yang masuk ke bengkel resmi jumlahnya bertambah lagi," bangganya.

Karena makin banyak konsumen datang ke bengkel resmi,  penjualan suku cadang dan aksesori resmi juga naik. Untuk itu, tahun ini, Dadan  menargetkan omset  Rp105 miliar, naik 31,25 persen dari 2012 hanya Rp 80 miliar.

Saat ini Chevrolet mempunya  36 jaringan  dealer3S (Sales, Service, dan Spare Part) plus empat bengkel mitra resmi di seluruh Indonesia.


 

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers. Five Filters recommends:

Skuter BMW C Evolution Menyengat di Frankfurt

Posted:

Frankfurt, KompasOtomotif – Setelah malang-melintang selama setahun dan sempat dijadikan kendaraan di Olimpiade London tahun lalu, akhirnya BMW C Evolution meluncur juga. Prosesi dilakukan di hari pertama Frankfurt Motor Show 2013, (10/9/2013). Skuter listrik ini akan menemani saudaranya sesama bongsor - maxi scooter- yakni C650GT dan C600 Sport.

Penggerak C Evolution berasal dari motor listrik dengan teknologi liquid-cooled permanent magnet synchronous yang menghasilkan tenaga sampai 15 PS (standar). Kendati demikian, bisa dibetot sampai 47 PS dengan torsi puncak 71 Nm. Diklaim, kemampuan tersebut sudah cukup untuk membuat kendaraan roda dua ini ngacir 120 kpj. Sedangkan sprint dari diam sampai 100 kpj hanya dalam 6,2 detik. BMW mengatakan, kemampaun tersebutsama dengan skuter 600cc. 

Untuk energi listrik, diperoleh dari baterai lithium-ion 8kWh yang dikemas dalam kotak aluminium. Baterai besar yang ditaruh di sasis hanya butuh 4 jam pengisian sampai penuh, pakai listrik rumah bertegangan 220V dengan soket 12 Ampere. Kalau mau cepat, pakai soket 16 Ampere, cuma tiga jam. Dalam kondisi penuh, baterai bisa bertahan sampai 100 km.

Seperti kebanyakan moge sekarang, skuter ini menawarkan beberapa mode berkendara. Pertama, "Road", untuk berakselerasi dengan mendapatkan bantuan energi hasil regenerasi dari rem secara  penuh. Namun bila cuma melaju konstan, bantuan energi dari regenerasi rem hanya. 50 persen. Selanjutnya,  "Eco Pro" membatasi akselerasi untuk memakimalkan penyimpanan energi.

Satu lagi, "Sail" mengurangi regenerasi energi ketika melaju. Pengguna bisa melaju tanpa dipengaruhi deselerasi. Terakhir, "Dynamic" gabungan akselerasi penuh dengan penyimpanan energi maksimal.

ABS dan kontrol traksi menjadi peranti standar. Pengoperasiannya bisa dilihat di layar TFT, termasuk menengok kecepatan dan indikator lainnya. Hanya ada dua pilihan warna, putih dan hijau. Harga dan waktu mulai dijual, akan diumumkan segera! 

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers. Five Filters recommends:

Tren Foto Spidometer Saat Ngebut Bisa Berujung Maut!

Posted:

Jakarta, KompasOtomotif — Di kalangan anak gaul atau komunitas mobil saat ini tengah merebak tren memotret spidometer saat ngebut. Tujuannya tidak lain untuk memamerkan kenekatannya mengemudikan mobil di luar batas kecepatan normal (di atas 120 kpj). Bahkan di Twitter ada hashtag khusus, yakni #speedometer, dan ada komunitas mobil yang membuat "Member of 200 kmh".

"Tren tersebut tidak ada manfaatnya dan bukan prestasi jika bisa melakukannya. Yang pasti bisa menyebabkan kecelakaan dan berpeluang besar menimbulkan korban jiwa!" tegas Bintarto, pengelola Indonesia Defensive Driving Centre (IDDC). Bagi yang berhasil, dikatakan nasibnya sedang bagus, dan belum tentu pada masa mendatang akan mendapat keberuntungan tersebut.

Dijelaskan, mengemudi adalah pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi tinggi dan tidak bisa disambi. Tugas utama sopir adalah mengemudi, seperti slogan yang selalu dikampanyekan IDDC, "Good driver, just drive". Artinya, saat menjalankan tugas, pengemudi tidak boleh melakukan hal lain yang dapat mengganggu konsentrasi, antara lain, menelepon, mengirim pesan, merekam, makan dan minum, atau bercanda dengan penumpang. Jika penting, maka pinggirkan dahulu mobil baru lakukan aktivitas tersebut.

Efek
Bahaya memotret spidometer saat ngebut adalah hilangnya kontrol terhadap kendaraan. "Makin kencang mobil melaju, pengemudi harus makin waspada dan konsentrasi penuh," papar Bintarto yang juga mantan pebalap dan pereli nasional ini. Nah, apa pun jenis gangguan konsentrasi akan mengakibatkan berkurangnya kewaspadaan dan reflek.

Jika ada kejadian atau gejala yang terjadi pada waktu yang bersamaan, otomatis tidak bisa diantisipasi dengan cepat dan tepat. Dapat dipastikan akan terjadi insiden. Dalam kondisi normal, reaksi manusia membutuhkan waktu 1,5 - 2 detik, belum lagi reaksi mekanis mobil yang butuh waktu maksimal 0,5 detik. Jika ditambah kecepatan tinggi, bisa dibayangkan efek yang akan terjadi. Parahnya jika mengikutsertakan pengguna jalan lain yang tidak bersalah.

"Ingat selalu, mengemudi merupakan perkerjaan penuh yang tidak bisa disambi dan terlalu bahaya jika diacuhkan," tutup Bintarto.

Editor : Aris F. Harvenda

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers. Five Filters recommends:

Diposkan oleh iwan di 15.31  

0 komentar:

Poskan Komentar