“Bus Super "Bintang Lima", Habiskan Biaya Rp 30,5 Miliar” plus 2 more

Selasa, 11 Juni 2013

“Bus Super "Bintang Lima", Habiskan Biaya Rp 30,5 Miliar” plus 2 more


Bus Super "Bintang Lima", Habiskan Biaya Rp 30,5 Miliar

Posted:

Vienna, KompasOtomotif - Uang bukan masalah bagi jutawan Arab untuk memenuhi keinginannya. Antara lain membeli mobil sport, jam tangan mewah, rumah "gedong", jet pribadi atau klub sepak bola.

Untuk kendaraan pribadi, bukan hanya sport kupe atau SUV premium yang dibutuhkan jutawan Arab untuk menjalankan aktivitasnya. Ternyata, mereka butuh kendaraan besar, luas, nyaman atau lebih hebat lagi fasilitasnya sama dengan hotel bintang lima. Itulah yang ditawarkan produsen bus premium Marchi Mobile asal Austria.

Lapis Emas
Produsen bus dan kendaraan komersial khusus ini, baru saja berhasil menjual salah satu model andalannya, yaitu eleMMent Palazzo pada salah satu Sheikh di Dubai, Uni Emirat Arab. Bus ini dipesan dengan balutan emas sehingg nilainya mencapai 2 juta pound atau Rp 30,5 miliar.

Belum cukup, juga fasilitas mewah seperti kamar tidur kolosal, televisi 40 inci, bar, perapian dan teras atap pribadi. Bagian paling mengesankan adalah ruangan tengah, yakni "Sky Lounge", panjangnya bisa bertambah sampai satu meter hanya dnegan menekan tombol.

"Nongkrong" bersama teman atau "meeting" dengan rekan bisnis bisa dilakukan di bus ini dan tersedia pula bar dengan minuman lengkap, lantai dengan penghangat dan pencahayaan mewah seperti lounge ekslusif.

Tren
Bus superpremium ini, ternyata menjadi tren baru di kalangan Sheikh Arab. Dengan panjang 12,1 meter dengan luas 66,7 meter persegi, digemari para jutawan dunia untuk menghabiskan aktivitasnya di dalam atau luar kota.

"Orang tidak pernah kehilangan perhatian untuk inovasi. Namun jarang menyisakan kegembiraan di pengujung waktu. Setelah beberapa tahun dikembangkan, kami berhasil menciptakan produk mewah berjalan," jelas juru bicara Marchi Mobile yang dilansir Daily Mail, kemarin (10/6/2013).

Seri EleMMent merupakan model terbaru dari Marchi Mobile, dibuat khusus bagi pecinta kendaraan yang ingin melebihi standar. "Tujuan kami bukan memperkenalkan kendaraan mewah, juga melangkah ke era baru. Model ini diciptakan sebagai 'masterpiece' yang langsung memposisikan dirinya sejak pertama kali dilihat," beber juru bicara  Marchi.

Dijelaskan, bus ini didesain untuk pebisnis dengan mobilitas tinggi, keluarga kaya untuk berlibur, bintang film atau musisi dunia sedabg nmengadakan tur ke banyak tempat.
 

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers. Five Filters recommends: 'You Say What You Like, Because They Like What You Say' - http://www.medialens.org/index.php/alerts/alert-archive/alerts-2013/731-you-say-what-you-like-because-they-like-what-you-say.html

Yamaha Byson Jadi Jagoan Aspal

Posted:

Jakarta, KompasOtomotif – Byson diciptakan Yamaha untuk jadi petarung jalanan, meski dalam versi kecil. Ini yang membuat Dennis kurang setuju. Sepeda motor 150cc itu dianggapnya berpotensi jadi jagoan aspal yang lebih gagah. Tampang cukup galak butuh beberapa sentuhan agar tampil lebih bongsor tapi tak terlampau besar.

Paling gampang dilakukan adalah mengganti knalpot. Dibantu Ariawan Wijaya dari Baru Motorsport, Dennis menjatuhkan pilihan pada tabung gas buang bentuk segitiga kepunyaan Kawasaki Z1000. "Modelnya  agresif, galak, dan kokoh. Aku mikirnya bakal cocok dengan penampilan barunya nanti," ujar penggemar sepeda motor jenis street fighter itu.

Tak asal pasang, knalpot Z1000 yang berasal dari mesin empat silinder dipangkas bagian lehernya, tersisa hanya tabungnya  untuk disambung pada leher Byson yang asli. Berawal dari knalpot ini, ide terus mengalir. Konsep sepeda motor street fighter dikedepankan.

Kaki-kaki mengalami perombakan dua kali. Pertama, menggunakan garpu depan upside down variasi milik Byson dan lengan ayun dilabur krom. Ban dibersarkan sedikit dengan ukuran 100/80 (depan) dan 150/60 (belakang). Namun penampilan ini dirasa kurang imbang dengan knalpot moge.

Dennis merombak ulang sektor ini. Lengan ayun dan monosok diganti limbahan Yamaha R1. Dengan begitu, pelek lebar bekas Kawasaki ZZR 1000 yang dibalut ban Pirelli Diablo 300/55-17 bisa mengimbangi penampilan. Sementara garpu depan pakai limbah Suzuki Hayabusa, bannya Pirelli Diablo 120/17-17.

Sulit
Jangan dikira gampang mengganti lengan ayun. Ari menerangkan ada teknik khusus agar penampilan tetap agresif "setengah nungging" layaknya moge street fighter. "Dudukannya beda, jadi harus sedikit merusak tulang sasis untuk dibuatkan tumpuan baru sokbreker bagian atas monosok Yamaha R1. Sedangkan dudukan bawahnya dibuat ulang," terang Ari.

Hasilnya, sepeda motor tidak tampak tenggelam dengan pelek dan ban besar. Posisi berdirinya agak menukik ke depan. Dan jika dinaiki, monosok tak gampang ambles dan membuat penampilan berubah kembali "culun".

Kondom Bodi dan tangki
Dengan ubahan kaki-kaki yang sudah ciamik, Ari memesan kondom bodi dan tangki ke Lent Automodified di Probolinggo, Jawa Timur. Modelnya tak macam-macam, asal menutupi setengah bagian telanjang sepeda motor seperti mesin dan tangki. Grafis yang dipilih sederhana, hanya permainan warna hitam dan silver. Beberapa bagian diberi motif karbon kevlar.

Rumah lampu Byson asli dirombak untuk ditanam ceruk lampu kabut mobil. Tapi sumber cahaya berasal dari lampu jenis proyektor. Jadilah bagian ini punya mata malaikat alias model angel eyes. Selebihnya, penggantian komponen seperti master rem Brembo, kaliper tokico, setang Rizoma, hingga speedometer bekas Ducati.

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers. Five Filters recommends: 'You Say What You Like, Because They Like What You Say' - http://www.medialens.org/index.php/alerts/alert-archive/alerts-2013/731-you-say-what-you-like-because-they-like-what-you-say.html

Vettel: F1 Kanada Cahaya Menuju Juara Dunia Empat Kali

Posted:

Kanada, KompasOtomotif - Sebastian Vettel yang berhasil memenangkan F1 Kanada di sirkuit Gilles Villenueve, akhir pekan lalu, mengaku dirinya lebih menikmati kelegaan atas berbagai permasalahan yang dialami di Kanada selama ini, ketimbang kesuksesannya naik podium pertama. Bayangkan, prestasi spektakulernya merebut juara dunia tiga kali berturut-turut, pebalap andalan tim Infiniti Red-Bull Racing itu terus gagal setiap tampil di Kanada.

Kemenangan pertamanya di sirkuit Gilles Villeneuve - mantan pebalap Ferrari yang tewas pada 8 Mei 1982 saat latihan di sirkuit Spa-Francorchpams, Belgia, dan ayah dari Jacques Villenueve - dimaknai oleh pebalap asal Jerman itu sebagai cahaya terang menggondol mahkota juara dunia untuk keempat kalinya.

Peluang itu sangat terbuka, kendati perjalanan ke arah puncak perburuan masih panjang. Namun, dengan mengumpulkan 132 angka, ia kini memiliki keunggulan 36 angka dari pesaingnya Fernando Alonso.

"Jujur, saya begitu peduli dengan kemenangan ini," komentarnya. Menurutnya, tidak perlu seorang jenius untuk mengetahui kalau Anda mendapat leih banyak poin dari pada orang lain dan lomba masih panjang.

Diakui Vettel, dirinya berada pada posisi yang berbeda dengan tahun lalu. Balapan kali ini sangat seru, "Sementara Fernando (Alonso) sedikit beruntung di sana-sini dan kami mampu mengalahkannya," paparnya.

Setelah menaklukkan sirkuit Gilles Villeneuve, di antara semua lintasan yang menjadi rangkaian kejuaraan, tinggal yang di Amerika (sirkuit Austin) belum dikalahkan. Tapi yang jelas, target Red Bull dan Vettel menebus rasa sakit hati dua tahun lalu tertebuskan sudah.

Jadi, saat lomba 2011, Vettel tak hanya kecewa karena dikalahkan oleh Button. Tapi, juga gagal menerima grand prix dari panitia Montreal. "Jelas, kami punya balapan yang baik sebelumnya, tapi itu tidak datang bersama-sama untuk menang. Dua tahun lalu itu, memang kesalahan saya di lap terakhir dan saya membalasnya kali ini," tegas Vettel.

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers. Five Filters recommends: 'You Say What You Like, Because They Like What You Say' - http://www.medialens.org/index.php/alerts/alert-archive/alerts-2013/731-you-say-what-you-like-because-they-like-what-you-say.html

Diposkan oleh iwan di 15.30  

0 komentar:

Poskan Komentar