“Sukses Empat Tahun Toyota Bersama Akio Toyoda”

Sabtu, 09 Maret 2013

“Sukses Empat Tahun Toyota Bersama Akio Toyoda”


Sukses Empat Tahun Toyota Bersama Akio Toyoda

Posted:

Tokyo, KompasOtomotif - Grup Toyota berhasil memimpin kembali pasar mobil global mulai tahun lalu dengan penjualan total 9,75 juta unit. Dari jumlah tersebut, Toyota paling tinggi dengan 8,7 juta unit, Daihatsu 876.000 unit, Hino 155.000 unit. Sukses ini berkat tangan dingin Presiden dan CEO Toyota Motor Corp. (TMC) Akio Toyoda. Padahal, jabatan tertinggi itu baru dijalankan oleh cucu dari Kiichiro Toyoda, pendiri Toyota, empat tahun silam (sejak Juni 2009), meski "badai dahsyat" datang mengganggunya .

Bayangkan, di awal kepemimpinannya (2009), cobaan terbesar datang berupa recall  dan itu terus dialami Toyota setiap tahun sampai 2011 yang kejadiannya tak hanya di Amerika Serikat (terbesar), tapi merembet sampai penjuru dunia. Jumlahnya (2009-2011) mencapai 9 juta unit dari berbagai model.  Tak cuma itu, Akio harus hadir di Kongres AS menyangkut isyu keselamatan pada 2010. Trus, Toyota sempat dicap sebagai merek yang "tidak aman" oleh mata dunia karena kasus ini. Tapi, Akio berhasil meyakinkan seluruh jaringan pemasaran Toyota di AS untuk tetap menyokongnya.

Dua program

Cobaan masih belum reda. Gempa bumi dan tsunami melanda Jepang, 2011. Bencana ini menyapu pemasok komponen, membuat Toyota kembali jatuh. Sekitar 40.000 unit produksi mobil harus terhenti setiap hari menyebabkan kerugian sampai 6 miliar yen atau Rp 648 miliar per hari. Situasi ini membuat hampir seluruh fasilitas perakitan Toyota di seluruh dunia lumpuh, termasuk Indonesia karena ketergantungan komponen yang diproduksi hanya di Jepang. Butuh enam bulan bagi Toyota untuk bisa pulih, mengakibatkan penjualan anjlok dan inden beberapa model laris seperti Prius menumpuk sampai tiga bulan.

Belum lagi bencana banjir di Bangkok, Thailand yang sempat menganggu pasokan mobil maupun komponen di kawasan Asia Tenggara. Toyota harus puasa jualan tiga pekan lebih, terutama pikap, sedan dan SUV yang produksinya terkonsentrasi di Thailand.

Dengan semangat pantang menyerah, semua rintangan dapat dilalui dan Toyota kembali menduduki tahta teratas menggeser rival abadi, General Motors yang hanya berhasil menjual 9,29 juta unit (2012). Keberhasilan ini  tak lepas dari perjuangan gigih Akio mengembalikan kepercayaan konsumen di AS melalui program perawatan berkala dan panggilan darurat 24 jam selama dua tahun atau 25.000 mil (40.225 km) dengan program Toyota Peduli (Toyota Care) dan Dorongan Servis Scion (Scion Service Boost).

Akio juga membuat jabatan baru di AS, khusus menangani layanan servis. Keinginan Akio untuk datang langsung ke AS, meminta maaf dan menjelaskan letak masalah pada konsumen mendapat sambutan positif, mencerminkan kalau Toyota benar-benar serius menanggapi masalah ini. Toyota juga sempat mengajak beberapa jurnalis dunia, termasuk KompasOTomotif, untuk datang keToyota City, Jepang untuk menyaksikan seperti apa kualitas yang ditawarkan pada setiap kendaraannya.

Yen

Tekanan terbesar Toyota bukan cuma datang dari kondisi alam yang tidak bisa dikendalikan. Tetapi juga dari penguatan nilai yen terhadap dollar Amerika Serikat (AS) yang berlangsung mulai 2010-2011. Situasi ini membuat pasokan komponen, biaya produksi sampai pengiriman menjadi mahal. Praktis menurunkan keuntungan, karena Grup Toyota sepanjang 2010 memproduksi 4,047 juta unit kendaraan di Jepang dan hampir setengahnya (50 persen) 1,855 juta unit diekspor ke pasar global.

Penguatan yen waktu itu sempat memangkas keuntungan Toyota sampai 100.000 yen atau Rp 12,2 juta per unit untuk setiap mobil yang diekspor dari Jepang. Misalnya, jumlah ekspor  Corolla dari Negeri Sakura ke AS setiap tahunnya lebih dari 200.000 unit. Menghadapi ini, Akio memutuskan untuk mengurangi ketergantungan pada Jepang. Salah satunya, menggeser produksi Corolla ke salah satu pabrik barunya di Mississippi, AS.

Tapi, Akio tentu bukan tipikal orang yang melupakan bangsa dan negaranya. Untuk menjaga perekonomian Jepang tetap maju dan kegiatan manufaktur tetap berjalan, maka Toyota tetap mempertahankan produksi di dalam negeri (Jepang) minimal 3 juta unit per tahun. Sampai tahun lalu (2012) produksi Toyota saja masih 3,49 juta unit di Jepang.

Kini, meski sudah di atas, tidak membuat Akio puas. Ia tetap bersikap waspada dan menjalankan strategi dengan berpedoman pada semangat usaha dari mendiang kakeknya, yakni inovasi. Kiichiro Toyoda tidak pernah berhenti melakukan penemuan baru, langkah baru, strategi baru untuk menjalankan bisnisnya.

Seperti dilansir kantor berita AP (8/3), Akio mengeluarkan kebijakan dengan menunda pembangunan pabrik baru sampai tiga tahun ke depan.Tujuannya, agar pengeluaran perusahaan tetap rendah. Lalu, membentuk kembali struktur bisnis, memberikan otonomi lebih pada divisi regional dan eksekutif asing.

Reborn

Kini, Toyota telah terlahir kembali (reborn). "Toyota harus mengejar keberlanjutan. Kami harus terus meningkatkan, menjadi lebih baik dan lebih baik, tidak bisa puas dengan apa yang telah pulih," ungkap Akio, 56. Ke depannya, ia ingin menjadikan Toyota lebih gesit, transparan dan berfikiran global. Sebuah upaya untuk mencegah terulangnya kesalahan-kesalahan perusahaan dalam beberapa tahun terakhir!

Toyota, lanjutnya, harus fokus pada pertumbuhan ramping dan memaksimalkan apa yang sudah dimiliki perusahaan untuk mendongkrak keuntungan. Tidak semata-mata mengejar jumlah penjualan! "Ada beberapa pabrik yang sibuk ada juga yang tidak," lanjut Akio.

Toyota mau lebih fleksibel terkait pasokan mobil dari satu negara ke negara lain, seperti Yaris yang kini diproduksi di Eropa akan dikirim ke AS, demi meningkatkan efisiensi pabrik.

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers. Five Filters recommends: Jousting With Toothpicks - The Case For Challenging Corporate Journalism http://www.medialens.org/index.php/alerts/alert-archive/alerts-2013/719-jousting-with-toothpicks-the-case-for-challenging-corporate-journalism.html.

Diposkan oleh iwan di 15.06  

0 komentar:

Poskan Komentar