“Mobil Listrik dengan Girboks vs Tanpa Girboks” plus 2 more

Rabu, 09 Januari 2013

“Mobil Listrik dengan Girboks vs Tanpa Girboks” plus 2 more


Mobil Listrik dengan Girboks vs Tanpa Girboks

Posted: 09 Jan 2013 03:44 AM PST

KompasOtomotif - Mobil listrik di Indonesia saat ini mendapatkan liputan besar dari berbagai media di Indonesia. Pasalnya, Menteri BUMN, Dahlan Iskan gencar mempromosikannya. Terakhir, makin ramai karena model yang paling dibanggakan,  supersport electric car Tucuxi, menabrak saat menunju kota kelahirannya, Magetan, Jawa Timur

Kemarin, Dahlah Iskan tersirat mengatakan, penyebab kecelakaan yang dialaminya lantaraanTucuxi tidak menggunakan girboks (transmisi). Karena itu pula, untuk memastikan keamanan, sebelum berangkat, rem diperbaiki. Nyatanya, rem yang tidak pakem menyebabkan sang menteri benar-benar mengalami kecelakaan.

Tanpa girboks
Karena tidak menggunakan girboks, berarti motor listrik Tucuxi langsung menggerakan as roda. Struktur seperti ini memang efisien karena tidak ada girboks dan kopling. Kerugian energi bisa ditekan, bobot jadi lebih ringan, tenaga bisa dipindah ke roda lebih mulus dan juga membuat mobil jadi responsif saat start.

Masalahnya, saat berada di turunan, ketika mobil diperlambat, rem bekerja sendirian menahan beban. Padahal, dengan kendaraan yang menggunakan mesin bensin atau diesel (lebih khusus lagi deisel), saat menurun – dengan adanya girboks – bisa menggunakan gigi 2 atau 3 - mesin ikut membantu kerja rem menahan laju mobil melalui efek yang disebut "engine brake". Pasalnya, mesin bisa beralih fungsi menjadi kompresor, menahan putaran roda dan transmisi.   

Perdebatan
Di dunia otomotif, penggunaan girboks untuk mobil listrik masih menjadi perdebatan bagian para insinyur. Pasalnya, hampir 90 persen mobil listrik yang sudah diproduksi dibuat tidak mengemudi girboks untuk memindahkan tenaga yang dihasilkan motor ke roda (as roda).

Hal tersebut bisa dimaklumi karena mobil listrik umumnya digunakan di perkotaan dengan jarak tempuh terbatas. Di samping itu, pengisian ulang baterai butuh waktu lama untuk dibawa keluarga kota harus dipertimbangan masak-masak.

Mobil listrik supersport terkenal dari Amerika Serikat, Tesla, juga tidak menggunakan girboks, namun dilengkapi dengan dua gigi percepatan: normal dan sport. 

Mobil listrik yang tidak menggunakan girboks, motor langsung dipasang pada as roda. Bahkan ada yang langsung disatukan pada roda. Untuk mengatur tenaga, torsi plus putaran, sesuai dengan kebutuhan pengemudi (melalui injakan pedal gas), pengaturan dilakukan seperti kipas angin atau "blower" AC.


Multi Percepatan
Namun kini, para insinyur mulai berfikir, mobil listrik harus dilengkapi dengan girboks dengan beberapa percepatan. Tujuannya, agar tenaga yang dihasilkan motor listrik bisa disesuaikan dengan kebutuhan operasi mobil, misalnya sedang membawa beban berat, di tanjakan atau turunan.Bahkan kini beberapa insinyur mengatakan, untuk mobil listrik sport atau bertenaga besar, harus menggunakan girboks dengan beberapa percepatan.

Kalau cuma satu, kendati kekuatan motor bisa diatur, seperti mesin konvensional, selain kurang efisien, juga akan merepotkan pengemudi pada kondisi tertentu. Misalnya, kalau dipilih rasio gigi tinggi, akselerasi, driveability, kemampuan menanjaknya akan payah. Bisa diumpamakan, kalau mobil hanya menggunakan gigi 4 atau 5. Sebaliknya, kalau rendah, juga terjadi pemborosan, cenderung spin saat start. 

Saat ini sudah banyak produsen transmisi menawarkan girbok multi-percepatan yang disatukan dengan motor listrik. Di samping itu, juga bisa langsung diintergrasikan dengan as roda. Bahkan, pilihannya bisa manual atau otomatis. Bahkan, untuk manual, tidak perlu menggunakan kopling. Pengemudi hanya memindahkan posisi tongkat, kemudian modul elektronik akan mengatur perpindahan gigi. 

Juga sudah ada produsen yang membuat girboks 4-percepatan untuk mobil listrik. Hasilnya, ukuran motor juga menjadi lebih kecil dan mobil tetap bisa dikemas dengan kompak.

Rem Reneratif
Kendati demikian, kelebihan mesin konvensional, yaitu efek "engine brake" tidak akan bisa diperoleh dari mobil listrik meski dilengkapi dengan rem regeneratif. 

Sistem terakhir - umumnya digunakan pada mobil listrik dan hibrida - saat kendaraan rem, motor berubah menjadi generator yang memperoleh putaran dari roda. Pada kondisi tersebut, selain menghasilkan tenaga listrik, motor juga akan berfungsi sebagai rem. Namun ini hanya efektif pada kecepatan tinggi.

Pada kecepatan rendah, rotor yang berada di tengah motor - berupa gulungan kabel (angker) atau magnet permanen - tidak bisa menghasilkan tenaga yang cukup besar. Akibatnya, rem regeneratif tidak bisa membantu kerja rem utama (pada keempat roda).

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers. Five Filters recommends: Gaza Blitz - Turmoil And Tragicomedy At The BBC.

Yamaha Targetkan Xeon RC 300.000 Unit

Posted: 09 Jan 2013 02:11 AM PST

Jakarta, KompasOtomotif - PT Yamaha Indonesia Motor Manufacturing (YIMM) bertekad untuk kembali mendongkrak pangsa pasar skutiknya melalui produk yang baru diluncurkan (9/1), Xeon RC. Sepanjang tahun ini, skutik termahal Yamaha ini dipatok minimum terjual 300.000 unit.

"Saya harap bisa lebih besar lagi, itu (300.000 unit) angka minimum," komentar Sutarya, Direktur Penjualan YIMM kepada KompasOtomotif, di Pulo Gadung, Jakarta Timur.

Mengacu data Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI), sepanjang tahun lalu Yamaha hanya mampu melego Xeon 79.028 unit. Dengan target tiga kali lipat, sangat mungkin penjualan terdongkrak mengingat total pasar segmen skutik premium di Indonesia tahun lalu mencapai 1,1 juta unit. "Kami coba mengejar pangsa pasar minimum 25-30 persen tahun ini," beber Sutarya.

Dyonisius Beti, Vice President Director YIMM menambahkan, penurunan penjualan Xeon, tahun lalu disebabkan kompetitor juga meluncurkan Honda Vario 125 dengan banderol lebih murah sampai Rp 1 juta. Untuk berkompetisi di pasar, Yamaha pun menurunkan menurunkan harga.

"Penyesuaian harga dilakukan demi konsumen. Dengan Xeon RC konsumen disuguhkan produk yang lebih komplet, baik dari teknologi maupun model," beber Dyon.

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers. Five Filters recommends: Gaza Blitz - Turmoil And Tragicomedy At The BBC.

Jupiter MX dan Soul GT Street "Facelift" Temani Xeon RC

Posted: 09 Jan 2013 01:39 AM PST

Jakarta, KompasOtomotif - Selain Xeon RC, Yamaha Indonesia juga melepas facelift Jupiter MX dan Soul GT Street di kantor pusat Yamaha Indonesia di Pulo Gadung, Jakarta Timur, hari ini (9/1). Keduanya mendapat penyegaran pada desain stiker body yang lebih agresif. Dan diluncurkan secara bersamaan untuk memperkuat citra sport yang selama ini melekat pada Yamaha.

Selain itu, juga menyambut musim baru MotoGP yang segera bergulir dengan harapan Yamaha bisa mempertahankan juara dunia yang tahun lalu disabet Jorge Lorenzo dari tim Pabrikan Yamaha. "Kami masih menjadi raja sport sampai tahun ini, dengan menyambut tahun baru kami langsung luncurkan tiga produk sekaligus," tegas Dyonisius Beti, Vice Presiden Director PT Yamaha Indonesia Motor Manufacturing (YIMM) di sela peluncuran.

Untuk Jupiter MX kopling, Yamaha memberi 4 pilihan warna, yakni Fiery Red, Emerald Green, Saphire Blue dan Shadow Black. Sedangkan non-kopling tersedia kelir Desert Orange, Aurora People dan Winter White.

Sama seperti Jupiter, Soul GT yang sebenarnya sudah pernah diperkenalkan di ajang Jakarta Motorcycle Show (JMCS), November lalu, mempunyai warna lebih "berani" yang terinspitasi dari street race, yakni Dazzling Black, Victorious Red, Cosmic White, Thunder Bolt Blue dan Regal Purple.

Soal harga tidak naik, untuk Jupiter MX Rp16,8 juta dan Soul GT Rp14,05 juta in the road Jakarta.

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers. Five Filters recommends: Gaza Blitz - Turmoil And Tragicomedy At The BBC.

Diposkan oleh iwan di 15.03  

0 komentar:

Poskan Komentar