“Honda Motor Asah Kemampuan Instruktur "Safety Riding"” plus 2 more

Jumat, 30 September 2011

“Honda Motor Asah Kemampuan Instruktur "Safety Riding"” plus 2 more


Honda Motor Asah Kemampuan Instruktur "Safety Riding"

Posted: 30 Sep 2011 09:41 AM PDT

JAKARTA, KOMPAS.com - Pertumbuhan penjualan sepeda motor di Indonesia berbanding lurus dengan jumlah kecelakaan yang ada di jalan. Karenanya, PT Astra Honda Motor (AHM) mengasah kemampuan para instruktur safety riding dan bikers dalam "Astra Honda Safety Riding Instructor Competition" (AHSRIC) yang digelar di lapangan Maguwoharjo, Yogyakarta, 29 September – 1 Oktober 2011.

Anggono Wiriawan, Safety Riding & Motor Sport Manager AHM mengatakan, kegiatan ini dilakukan rutin setiap tahun sebagai bukti komitmen dan partisipasi Honda dalam kampanye keselamatan berkendara di Tanah Air. "Ini semacam kalibrasi teknik instruktur safety riding Honda di seluruh Indonesia dan upaya menularkan budaya safety riding ke bikers. Makannya, kami ajak juga anak-anak dari klub Honda," beber Anggono di Yogyakarta, Jumat (30/9).

Peserta mencapai total 94 dan dibagi dua ke bagian. Kelompok pertama terdiri dari para istruktur safety riding asal dealer Honda dari seluruh Indonesia berjumlah 48 orang. Kelompok kedua perwakilan dari komunitas dan klub Honda total 46 orang. Dari masing-masing kelompok dipilih tiga besar terbaik dan pememang pertama meraih hadiah satu unit New Honda Blade. Khusus pememang dari instruktur memperoleh kesempatan mengikuti ajang serupa di Jepang.

4 rintangan

Untuk menentukan pemenang, peserta harus bisa melewati empat rintangan. Keempatnya berupa Breaking (teknik pengereman), Narrow Plank (kecepatan yang ekstra pelan dengan tetap menjaga postur berkendara), Slalom Phylon (keterampilan berkendara dan pengendalian setang kemudi menggunakan akselerasi yang benar), dan Slalom Course (keterampilan pengendaraan dan pengendalian setang kemudi dengan posisi berkendara yang benar).

Bambang Riyanto, salah satu instruktur mewakili HSO-Semarang mengaku senang bisa ikut ambil bagian dalam acara ini. "Untuk masuk dalam kompetisi ini saja harus diseleksi dulu di masing-masing daerah. Jadi ini sebuah kebanggaan bisa bersaing dengan teman dari daerah lain," jelas Bambang.

Wahid, anggota Djogjakarta Riders Association City Sport yang juga peserta dari kelompok bikers bertekad menularkan budaya safety riding ke rekan-rekannya. "Dengan ikutan ini, anggota yang lain jadi terpacu, sehingga mereka mau belajar bagaimana safety riding yang benar. Ini sangat positif sekali," kata Wahid.

Melalui kegiatan AHSRIC, pihak Honda seperti diutarakan GM Marketing Planning and Analysis AHM Agustinus Indraputra berharap bisa meningkatkan kompetensi para instruktur Safety Riding Honda dan advisor Safety Riding komunitas Honda. "Mudah-mudahan kompetisi ini melahirkan agen-agen dalam memberikan edukasi keselamatan berkendara di setiap wilayah jaringan Honda," tutup Agustinus.

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers. Five Filters featured article: A 'Malign Intellectual Subculture' - George Monbiot Smears Chomsky, Herman, Peterson, Pilger And Media Lens.

Insentif Gagal Mendongkrak Penjualan Mobil Listrik di Eropa

Posted: 30 Sep 2011 08:49 AM PDT

FRANKFURT, KOMPAS.com – Program pemerintah negara-negara Eropa memberikan insentif untuk mendongkrak penjualan mobil listrik, belum memperlihatkan hasil yang  berarti. Malah disimpulkan gagal. Demikian dilaporkan oleh JATO Dynamics dari Eropa dan dipublikasi awal minggu ini.   

Kendati produsen mobil Eropa gencar mempromosi mobil listrik, kenyataan, penjualan mobil listrik pada semester pertama (S1) 2011 hanya 5.222 unit. Dibandingkan dengan penjualan periode yang sama pada tahun lalu, terjadi kenaikkan penjualan 10 kali lipat. Pada peridode yang sama 2010, penjualan mobil listrik pda 15 negara –negara Uni Eropada hanya 507 unit.  

Jerman Top
Mobil listrik paling banyak terjual pada S1 2011 adalah Jerman, total 1,020 unit. Semntara subsidi yang diberikan oleh pemerintah hanya 380 euro. Bandingkan dengan Denmark yang memberikan insentif pajak tertinggi, 20.588 euro, hanya bisa menjual 283 unit. Sedangkan Spanyol dengan subsidi 6.500 euro, 122 unit dan Inggris 6.400 euro 599 unit.

"Penawaran insentif ternyata rendah pengaruhnya terhadap keputusan konsumem membeli mobil listrik," jelas Gareth Hession, Vice President riset JATO. Ditambahkannya, faktor yang lebih berpengaruh adalah geografi urban, kematangan pasar dan infrastruktur pengisian baterai.

Faktor lokal, termasuk menggunakan jalur bus dan kesediaan parkir bebas di pusat kota Oslo dan dan pembebasan dari pembiayaan kepadatan London, juga tidak mempengaruhi.

Disimpulkan, pasar yang sudah matang (mature), membuat subsidi bukan lagi daya tarik. Infrastruktur seperti stasiun pengisian baterai malah menjadi pertimbangan.

Penjualan dan insentif mobil listrik di 15 negara Uni Eropada pada S1 2011

No. Negara Terjual (unit) Insentif (euro)
1. Jerman 1.020 380
2. Prancis 953 5.000
3. Norwegia 850 17.524
4. Inggris 599 6.400
5. Austria 347 2.571
6. Denmark 283 20.588
7. Belanda 269 4.936
8. Spanyol 269 6.500
9. Swedia 111 470
10. Italia 103 1.200
11. Portugal 93 9.442
12. Belgia 85 10.907
13. Czech 43 271
14. Irlandia 36 5.000
15. Rumania 2 3.700
Total 5.222  
Sumber: JATO

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers. Five Filters featured article: A 'Malign Intellectual Subculture' - George Monbiot Smears Chomsky, Herman, Peterson, Pilger And Media Lens.

BMW Putih "Si Ratu Gandengan"

Posted: 30 Sep 2011 08:45 AM PDT

PHILADELPHIA, KOMPAS.com - Bentuk yang mini dan berwarna putih membuat BMW 325i yang berjalan merayap ini jadi perhatian bak ratu yang sedang lewat. Namun, tampilannya yang ceper kalah menarik ketika ia ternyata memiliki gandengan dengan buntut serupa. Ini membuatnya tak sekadar menjadi ratu, tetapi bagai "si ratu gandengan".

Neil Shvarts awalnya terkenang dengan BMW tahun 1990-an ketika masa kecil. Waktu itu, ayahnya memiliki BMW 316i untuk mengantarnya sekolah. "Saya masih ingat bau interiornya. Saya suka bagaimana bentuknya dan bagaimana mobil itu bergerak," ungkap pemilik usaha bengkel dan pemasangan lapisan kaca di Philadelphia, AS, ini.

Kenangan itu menguatkan niatnya untuk membeli sebuah BMW 325i dua pintu. Ia lantas membuatnya ceper dengan memangkas ketinggian kaki depan 60 mm, dan belakang 40 mm. Setelahnya, ia menambahkan suspensi Bilstein Sport serta velg 16 x 8 inci dari Sport Maxx dan ban 205/45 R16 Goodyear Eagle F1 plus "meminjam" side skirt dari Ford Taurus sehingga menjadikannya ceper khas "euro style".

Pada suatu ketika, bertemulah Neil dengan pemilik BMW serupa yang ingin menjualnya dalam kondisi bagian depan cacat. "Saya pikir, ambil saja mobil ini. Sepertinya saya punya ide untuk memanfaatkan bagian belakangnya," urainya.

Maka jadilah sebuah gandengan. Ia pun mengesetnya dengan level ceper yang sama, sekaligus pasang suspensi Bilstein Sport. Namun, proses ini bukan tanpa kendala. "Saya harus menghadapi uji peraturan khusus gandengan," ungkapnya. Ia mengaku banyak mendapat strip merah untuk gandengan mobilnya.

Alhasil, beberapa bagian dilepas dan dipotong. Tak ada lagi atap, pintu belakang, dan hasilnya seperti mobil convertible yang cuma diambil bagian belakangnya. Uniknya, pintu gandengan bukan di belakang, melainkan di depan.

Namun, Neil mengaku puas. Gandengan itu pun kadang digunakan untuk menaruh tungku barbeque atau membawa gokart koleksinya. (Dimas)

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers. Five Filters featured article: A 'Malign Intellectual Subculture' - George Monbiot Smears Chomsky, Herman, Peterson, Pilger And Media Lens.

Diposkan oleh iwan di 16.17  

0 komentar:

Poskan Komentar