“Viar Klaim Masuk Empat Besar” plus 2 more

Kamis, 24 Maret 2011

“Viar Klaim Masuk Empat Besar” plus 2 more


Viar Klaim Masuk Empat Besar

Posted: 24 Mar 2011 11:23 AM PDT

JAKARTA, KOMPAS.com — PT Triangle Motorindo—prinsipal sepeda motor Viar—mengklaim menduduki posisi empat besar di pasar sepeda motor nasional periode Januari-Desember 2010. Viar berhasil mengungguli Kawasaki sekaligus menjadi satu-satunya merek non-Jepang yang masuk ke ranah "The Big Four".

Jika diurut dari data penjualan anggota Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) 2010, Honda memimpin penjualan dengan angka 3,4 juta, Yamaha (3,3 juta), Suzuki (526.003), Viar (96.807), Kawasaki (87.004), TVS (19.435), dan Kanzen (1.890).

Akhmad Zafitra Dalie, General Manager Marketing Viar Motor, menjelaskan, sepanjang tahun lalu penjualan Viar melesat 58 persen dari periode 2009 yang hanya 61.293 unit. Penjualan terbesar Viar disumbangkan model bebek (underbone) yang menyumbang 74 persen atau 71.554 unit.

"Kami optimistis masih bisa meningkatkan penjualan tahun ini dengan target 120.000 unit," jelas Dalie di sela perayaan hari jadi Viar ke-11 di MU Cafe, Sarinah, Jakarta, Kamis (24/3/2011).

Dari total distribusi di seluruh Indonesia, Sulawesi Utara dan Sulawesi Barat menjadi pasar terbesar dengan angka penjualan 18.050 unit atau 19 persen pangsa. Disusul Sulawesi Utara 11.736 unit (12 persen) dan Jawa Timur 11.127 unit (12 persen).

Sementara itu, sepanjang tiga bulan pertama 2011 Viar sudah mencatatkan penjualan 24.600 unit, naik 12 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu 21.947 unit. "Baru tiga bulan kita sudah meraih 20,5 persen dari target penjualan tahun ini. Kami optimistis pasti tercapai," kata Dalie.

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read our FAQ page at fivefilters.org/content-only/faq.php. Five Filters featured article: Libya and Oil.

Napas Industri Otomotif Nasional Cuma Dua Bulan

Posted: 24 Mar 2011 11:04 AM PDT

JAKARTA, KOMPAS.com — Industri otomotif nasional hanya bisa bernapas dua bulan (Maret dan April) sampai akhirnya proses produksi mobil baru terganggu, atau yang terparah berhenti total. Pasalnya, stok komponen yang dipasok dari Jepang mulai seret seiring bencana alam gempa dan tsunami yang terjadi di Jepang pada 11 Maret 2011.

Seperti diketahui, hampir semua mobil merek Jepang yang diproduksi di Indonesia masih bergantung pada komponen dari prinsipal. Bahkan, suku cadang yang diimpor dari negara ASEAN juga tak terpisahkan dari pasokan bahan baku dari Negeri Sakura.

Sudirman Maman Rusdi, Ketua Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), menjelaskan, berhentinya aktivitas produksi prinsipal atau perusahaan komponen di Jepang tidak cuma berpengaruh pada unit completely knocked down (CKD) yang diimpor, tetapi juga bahan baku perusahaan komponen domestik Indonesia.

"Sampai kini yang dipastikan terkena dampak itu komponen tier 2 dan tier 3, dan berpengaruh tak cuma di Indonesia, tetapi di seluruh dunia. Rata-rata industri otomotif nasional masih punya stok sampai April dan Mei, sedangkan bulan selanjutnya masih belum jelas," ujar Sudirman di Konferensi Pers Industri Otomotif Indonesia Pascagempa Bumi dan Tsunami Jepang di Hotel Nikko, Jakarta, Kamis (24/3/2011).

Ia melanjutkan, kebocoran reaktor pembangkit listrik tenaga nuklir di Fukushima membuat kondisi pabrik-pabrik yang berlokasi 30 km dari lokasi menjadi lumpuh total. Selain itu, pasokan listrik yang berkurang juga memperkeruh keadaan.

"Masalahnya, pabrik-pabrik yang berada lokasi itu belum tentu rusak semua, tapi tetap tak bisa difungsikan karena semua orang dievakuasi karena bahaya radiasi nuklir," jelas Sudirman, yang juga menjabat Presiden Direktur PT Astra Daihatsu Motor.

Johannes Nangoi, Wakil Presiden Direktur PT Isuzu Astra Motor Indonesia, mengatakan, sedikitnya ada 29 perusahaan komponen yang berada di lokasi bencana yang menjadi pemasok utama industri otomotif Jepang. Total, lanjutnya, ada 50 jenis komponen yang terganggu pasokan.

"Komponen yang diimpor dari Thailand juga banyak yang mengandalkan pasokan dari Jepang. Artinya, mobil yang diimpor CBU (completely built up) (dari Thailand) bisa juga berpengaruh," beber Nangoi.

Relokasi

Ketua I Gaikindo Jongkie D Sugiharto menjelaskan, bencana di Jepang bisa menjadi peluang sekaligus malapetaka bagi Indonesia. Disebut peluang, kata dia, karena perusahaan Jepang pasti mempertimbangkan untuk merelokasi pabriknya ke luar Jepang, tetapi butuh waktu yang tak sedikit.

"Kalau petaka itu sudah jelas karena pasokan untuk Mei belum jelas. Padahal, Indonesia lagi berkembang dan butuh kendaraan bermotor. Buat kita, repot kalau kita kekurangan pasokan," jelas Jongkie. Efek domino, lanjut Jongkie, berpotensi terjadi sampai pada penghentian produksi total yang ujungnya penghentian sementara pegawai pabrik.

Sementara itu, Hadi Surjadipradja, Ketua Umum Gabungan Industri Alat-alat Mobil dan Motor (GIAMM), mengaku bahwa sampai kini belum ada laporan lengkap terkait industri komponen dalam negeri yang terganggu produksinya. Namun, ia memastikan ada dampak serupa yang terjadi mirip pada proses produksi mobil.

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read our FAQ page at fivefilters.org/content-only/faq.php. Five Filters featured article: Libya and Oil.

Gaikindo Turunkan Target Menjadi 800.000 Unit

Posted: 24 Mar 2011 11:00 AM PDT

JAKARTA, KOMPAS.com — Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) lebih konservatif dalam menetapkan target penjualan tahun ini. Bila semula dipatok 850.000 unit, mereka merevisi turun menjadi 800.000 unit. Penurunan ini tentu berkaitan dengan terhambatnya suplai komponen dari Jepang bila prinsipal tidak segera kembali beraktivitas.

Demikian penjelasan Ketua Umum Gaikindo Sudirman dalam acara konferensi pers "Industri Otomotif Indonesia Pascagempa Bumi dan Tsunami di Jepang" di Hotel Nikkko, Jakarta Pusat, Kamis (24/3). Seberapa besar pengaruhnya masih belum bisa diketahui. Kami berusaha setidaknya masih bisa mengejar penjualan 800.000 unit tahun ini," tutur Sudirman

Sudirman yakin, industri di Jepang tengah memikirkan strategi selanjutnya jika fasilitas produksi di lokasi bencana tak bisa beroperasi. "Jepang itu, kan, luas. Saya yakin mereka akan merelokasi pasokan komponennya ke produsen yang tak terkena dampak bencana. Ini akan dilakukan, tinggal seberapa cepat hal itu bisa dilakukan, ini belum terjawab," paparnya.

Belum ada kepastian pasokan pada Mei 2011 sehingga bisa mengancam industri otomotif di Indonesia kehilangan pasar. Biasanya produsen otomotif menggenjot produksi dua sampai tiga bulan sebelum hari raya Idul Fitri (Agustus 2011). Akan tetapi, dengan kondisdi ini, tentu menjadi sebuah kerugian besar bagi merek mobil Jepang yang menguasai lebih dari 90 persen pangsa pasar di Indonesia.

Ia menambahkan, gangguan produksi ini tak akan memengaruhi harga jual kendaraan di Indonesia. Pasalnya, menurutnya, yang bisa menaikkan harga kendaraan adalah kenaikan harga bahan baku atau penguatan nilai tukar mata uang.

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read our FAQ page at fivefilters.org/content-only/faq.php. Five Filters featured article: Libya and Oil.

Diposkan oleh iwan di 15.02  

0 komentar:

Poskan Komentar