“Mobil Murah Mitsubishi Serbu Indonesia pada 2013” plus 2 more

Senin, 07 Maret 2011

“Mobil Murah Mitsubishi Serbu Indonesia pada 2013” plus 2 more


Mobil Murah Mitsubishi Serbu Indonesia pada 2013

Posted: 07 Mar 2011 10:14 AM PST

JENEWA, KOMPAS.com – Lancer Evo boleh saja hilang! Namun Mitsubishi telah mempersiapkan produk global yang tak kalah menarik dan awal tahun depan mulai diproduksi di Thailand. Saat ini, mobil sub-kompak yang diberi label  "Concept Global Small" dipajang di Geneva International Motorshow 2011 dan merupakan debut pertama mobil di depan publik. Diperkirakan pada 2013 sudah diekspor, termasuk Indonesia. Maklum, Asean merupakan prioritas utama dari mobil kecil ini.

Penampilan mobil kecil ini sangat menarik, terutama desainnya yang "stylish" dan sporty.  Para desainer Mitsubishi yang mengembangkan mobil ini sejak dua tahu lalu di Okazaki, Jepang berhasil memadukan konsep kompak dengan penampilan yang memikat dalam satu paket.

Dimensi Mitsubishi ini sama dengan Nissan March.Panjangnya: 3,74 m, lebar,1,68 m dan tinggi 1,49 m.  Bandingkan dengan March yang sudah banyak digunakan di Jakarta: Panjang 3,78 m, lebar 1,665 m dan ltinggi 1,525 m. Sedikit  lebih lanjang dari Chevrolet Spark (panjang: 3,78, lebar 1,665 m dan tinggi 1,525 m).  Karena itu pula, nantinya mobil ini masuk Segmen B!

Ban Besar
Sebagai andalan  Mitsubishi generasi mendatang, aspek penampilan dan nilai ekonomi dikemas dalam satu paket. Untuk membuat penampilan menarik, si kecil ini dilengkapi dengan ban 185/55-R16. Hebatnya lagi, hambatan gelindingnya rendah.

Untuk ekonomi, Mitsubishi menawarkan dua  mesin dengan kapasitas 1,2 liter dan 1,0 liter, 3-silinder. Kemampuan mesin menghasilkan tenaga belum dibeberkan. Namun Mitsubishi mengatakan, akan melengkapi mobil ini dengan transmisi manual 5-percepatan plus teknologi   

Agar harganya terjangkau – termurah dalam daftar produk Mitsubishi - pembuatannya dipusatkan di Lem Chabang Industrial Estate, Provinsi Chanburi, Thailand. Mitsubishi yakin, mobil ini  juga akan menjadi yang termurah di pasar negara-negara berkembang, seperti di Asean dan China.

Mobil Listrik
Ditambahkan, mobil ini sudah dikembangkan selama dua tahun.  Konsepnya, memadukan unsur  "eco/compact" dalam satu paket.  Karena itulah mobil  ini diberi awalan "e". Antara lain, "e" untuk efisiensi, yitu mobil kecil yang licah, visibilitas luas, bisa memuat 5 penumpang dewasa  dan bagasi  cukup besar.

"e" berikutnya, "engineering" (rekayasa). Mitsubishi merekayasa mobil  ini untuk memenuhi berbagai regulasi dan kebutuhan negara dan konsumennya. Karena itu pula, ditambahkan "e" lain, yaitu "enviromentl".  Caranya, mobil dibuat seringan mungkin, menggunakan mesin kecil dengan teknologi MIVEC, plus teknologi "Auto Stop & Go" dan sistem regeneratif energi rem, seperti KERS pada F1.  

Selanjutnya, "e" electric. Seperti juga i-MiEV, nantinya akan dijadikan mobil listrik. Selanjutnya, "e", untuk ekonomi,  Mitsubishi menjamin,  mobil ini nantinya dijual dengan harga murah. Sampai saat ini belum ada informasi perkiraan harganya.

Masih ada dua "e" lagi, yaitu "effective design". Mobil dinilai sangat pas digunakan di dalam kota yang makin sesak lalu lintasnya dan juga bisa dikebut di jalan tol (kecepatan dibatasi).  "e" terakhir  adalah  ekspor. Sebagian besar, yaitu 80 persen dari total  produksi 150.000 per tahun (ditingkatkan  200.000 unit) diekspor ke negara-negara Asean, Jepang, Asia Utara,  Australasia, Eropa dan Amerika Utara.

Kalau sudah begini, di IIMS2011 nanti, kemungkinan besar Mitsubishi akan memajangnya sekaligus memancing animo konsumen Indonesia!

Loading...

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read our FAQ page at fivefilters.org/content-only/faq.php
Five Filters featured article: Comment Is Free But Freedom Is Slavery - An Exchange With The Guardian's Economics Editor.

Ternyata, di Amerika Nyetir Sambil Berponsel Lumayan Tinggi

Posted: 07 Mar 2011 08:00 AM PST

BLOOMINGTON, KOMPAS.com - Kecelakaan saat mengemudi mobil - baik tunggal atau dengan kendaraan lain - dipicu dua hal. Pertama, karena kondisi mobil yang tidak laik jalan. Kedua, kelalaian atau kecerobohan pengemudi.

Untuk faktor terakhir, bisa karena mengantuk atau konsentrasi terganggu akibat melakukan aktivitas lain seperti di antaranya mendengarkan audio atau menyetel radio. Atau - ini yang lagi marak -  saat di belakang kemudi asyik bertelepon-ria atau sms-an menggunakan telepon seluler.

Perilaku seperti itu, selain beresikon tinggi terjadi kecelakaan, juga menjadi penyebab kemacetan. Makannya, di Jakarta saja, Kepolisian Republik Indonesia tak segan-segan menilang pengendara mobil yang asyik menggunakan ponsel saat mengemudi. Dendanya pun tak ringan, kurungan penjara 3 bulan atau denda maksimal Rp750.000-menurut Undang-Undang No 22 tahun 2009 tentang Lalu lintas dan Angkutan Jalan.

Ternyata, perilaku  mengemudi sampai bertelepon tak cuma di Indonesia, tapi juga di Amerika. State Farm, sebuah lembaga asuransi di Amerika Serikat telah melakukan survei seberapa banyak menggunakan ponsel pintar (smartphone) untuk internet, bertukar pesan melalui blackberry messenger (BBM) atau sekedar update status di Facebook atau Twitter sambil nyetir.

Dari 912 responden (pengemudi) yang masih punya SIM aktif, memiliki smartphone dan rata-rata mengendarai mobil minimal satu jam per pekan, 19 persen mengaku berinteraksi dengan ponsel kala menyetir. Terutama di saat kondisi lalu lintas mengalami kemacetan atau di lampu rambu (traffic light). Aktivitas yang dilakukan, entah itu mencari alamat jalan melalui GPS (global positioning system), membaca e-mail, browsing, situs jaringan sosial (Facebook, Twitter,dll) dan mengirim email.

Penelitian State Farm mengatakan, sekitar 40 persen penduduk AS memiliki smartphone. "Kami sangat tertarik mempelajari kecenderungan pengemudi menggunakan ponsel saat dibalik kemudi. Kami berupaya mencegah terjadinya kecelakaan dan menyelamatkan banyak jiwa. Penelitian ini membuat kita mengerti gangguan apa saja yang terjadi di jalan," komentar Cindy Garretson, Director of Auto Technology Research State Farm, seperti dilansir insurancenetworking.com.

Loading...

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read our FAQ page at fivefilters.org/content-only/faq.php
Five Filters featured article: Comment Is Free But Freedom Is Slavery - An Exchange With The Guardian's Economics Editor.

Yamaha India Siapkan Sepeda Motor Listrik

Posted: 07 Mar 2011 06:21 AM PST

Senin, 7 Maret 2011 | 14:21 WIB

Yamaha

Yamaha EC 03, skuter listrik

NEW DELHI, KOMPAS.com - Yamaha Motor India (YMI) tertarik memasarkan sepeda motor listrik di negeri sendiri. Apalagi harga bahan bakar premium terus naik (sekarang Rp11.800 per liter), tentu memberi peluang untuk kendaraan energi terbarukan.

"Sepeda motor listrik merupakan opsi bagus dan kami baru menjualnya di Jepang. Ada kemungkinan India menjadi salah satu pasar yang dituju, guna memperkenalkan produk," ucap Jun Nakata, Direktur Pemasaran YMI, seperti dilanir Economic Times (6/3). Sayang, Nakata tak menjelaskan lebih spesifik seperti apa rencana ke depannya.

Yang pasti, YMI kini tengah mempersiapkan dua model baru yang  diluncurkan tahun ini, salah satunya skuter otomatik (skutik). Nakata menambahkan, unit baru ini menjadi produk perdana Yamaha di segmen skutik. "Model masih dikembangkan di Jepang dan khusus diciptakan sesuai karakteristik pasar India," jelas Nakata.

Roy Kurian, Kepala Bisnis Nasional YMI menambahkan, setiap tahun Yamaha pasti meluncurkan produk baru. Tanpa menyuarakan nama model, dia cuma menekankan Yamaha bakal memperkuat posisinya di segmen sepeda motor 150cc.

"Tahun lalu kami berhasil menjual 3,7 lakh (370.000) unit di pasar domestik dan 1,2 lakh (120.000) unit untuk ekspor. Target kami bisa meningkatkan penjualan 40-50 persen pada tahun ini," jelas Kurian.

Di India, Yamaha mengoperasikan dua fasilitas perakitan di Uttar Pradesh dan Haryana dengan total kapasitas produksi 600.000 unit per tahun dan bisa dinaikkan sampai 1.000.000 unit per tahun.

Penulis: Agung Kurniawan
Editor: Bastian

Loading...

Kirim Komentar Anda

Kirim Komentar Anda

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read our FAQ page at fivefilters.org/content-only/faq.php
Five Filters featured article: Comment Is Free But Freedom Is Slavery - An Exchange With The Guardian's Economics Editor.

Diposkan oleh iwan di 15.03  

0 komentar:

Poskan Komentar