“Ferrari Ikut Ramaikan Ultah Italia Ke-150”

Minggu, 20 Maret 2011

“Ferrari Ikut Ramaikan Ultah Italia Ke-150”


Ferrari Ikut Ramaikan Ultah Italia Ke-150

Posted: 19 Mar 2011 09:54 AM PDT

ITALIA, KOMPAS.com — Kemarin (18/3), Italia memperingati hari jadinya yang ke-150. Ferrari yang bangga menjadi merek Italia turut memeriahkan perayaan dengan melakukan sesuatu secara khusus. Markas produsen berlogo kuda jingkrak itu menampilkan tiga produknya di depan bendera Negeri Piza bertuliskan angka 150 dan sesuai dengan warna bendera, hijau, putih, dan merah.

Ketiga kendaraan tersebut adalah Ferrari FF berkelir hijau, Ferrari 458 berwarna putih, dan mobil balap F1 berwarna merah. Selain itu, bendera Italia bertuliskan 150 disertai tanda derajat di atas angka nol akan terpasang di 40 outlet Ferrari di seluruh dunia.

"Baik pria maupun wanita merasa bangga bisa bekerja sama dengan Ferrari, entah itu di jalur balap maupun di pasar mobil," ungkap Presiden Ferrari Luca di Montezemolo, dalam sambutannya. Ia menambahkan, kami mendedikasikan hari bersejarah Italia ini kepada mobil balap F1. "Dengan begini, semua akan termotivasi seperti kita dalam menjalankan pekerjaan sehari-hari."

Pada 2011, Ferrari telah melakukan tindakan revolusioner dengan produk terbarunya, Ferrari FF, yang merupakan produk pertama dengan gerak empat roda dan memuat empat penumpang. FF tampil sebagai Grand Touring baru yang menawarkan banyak kelebihan.

Kembali soal Ferrari yang memakai kode F-150 pada mobil balap F1, hal ini sempat mendapat sedikit persoalan. Salah satu produsen mobil Amerika, Ford, menuntut agar Ferrari tidak memakai kode tersebut karena takut nanti konsumen Ford bingung. Akhirnya, huruf "F" diganti dengan "Ferrari" dan di akhir angka nol pada 150 ditambahkan "nol" kecil sebagai simbol tahun.

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read our FAQ page at fivefilters.org/content-only/faq.php
Five Filters featured article: Comment Is Free But Freedom Is Slavery - An Exchange With The Guardian's Economics Editor.

Diposkan oleh iwan di 15.09  

0 komentar:

Poskan Komentar