“HPM: "Recall" Bukan Tabu, melainkan Tanggung Jawab” plus 2 more

Jumat, 18 Februari 2011

“HPM: "Recall" Bukan Tabu, melainkan Tanggung Jawab” plus 2 more


HPM: "Recall" Bukan Tabu, melainkan Tanggung Jawab

Posted: 18 Feb 2011 12:28 PM PST

Jumat, 18 Februari 2011 | 20:28 WIB

kompas.com/agung kurniawan

JAKARTA, KOMPAS.com — Aksi penarikan untuk perbaikan (recall) yang dilakukan PT Honda Prospect Motor menimbulkan banyak pertanyaan di benak konsumen. Pasalnya, hal itu bisa menimbulkan berbagai interpretasi, dari yang negatif sampai positif.

"Recall bukan kesalahan, melainkan tanggung jawab konkret dan harus diinformasikan sebaik mungkin kepada konsumen," ucap Jonfis Fandy, Direktur Pemasaran dan Layanan Purna Jual HPM. Menurutnya, saat ini ada beberapa ATPM yang masih sembunyi-sembunyi melakukan recall.

"Itu kesalahan. Setiap konsumen perlu mendapat pemberitahuan mengenai produk yang terkena recall, baik langsung maupun melalui pihak ketiga."

"Kita memang mengirim satu-satu surat ke konsumen. Namun, apakah 100 persen surat sampai di tujuan? Di sini peran media jadi penting supaya konsumen tahu apa dan bagaimana nasib mobilnya. Dengan informasi yang jelas, jaringan bengkel juga tak bisa berdalih pura-pura tak tahu," beber Jonfis kepada Kompas.com, malam ini.

Honda berkomitmen untuk terus menjaga kepuasan konsumen meski recall mengurangi keuntungan perusahaan. Karena itu, Honda mengklaim diri sebagai salah satu merek mobil di Indonesia yang terang-terangan mau mengakui produknya terkena recall. Sementara itu, beberapa merek lain cenderung menutupinya dengan embel-embel kata "kampanye perbaikan".

Nah, meskipun Indonesia tak punya regulasi baku soal recall, sudah saatnya bagi ATPM terus terang. Udah enggak zaman lagi bertindak diam-diam atau berkilah di balik kampanye layanan perbaikan!

Penulis: Agung Kurniawan
Editor: Zulkifli BJ

Loading...

Kirim Komentar Anda

Kirim Komentar Anda

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read our FAQ page at fivefilters.org/content-only/faq.php
Five Filters featured article: Collateral Damage - WikiLeaks In The Crosshairs.

MicroFueler, Bikin Ethanol Sendiri di Rumah

Posted: 18 Feb 2011 11:24 AM PST

LOS GATOS, KOMPAS.com - Inovasi tanpa batas. Kalimat itu yang menginspirasi Thomas Quinn pendiri perusahaan E-Fuel dan menciptakan produk revolusioner, MicroFueler,  alat untuk membuat ethanol rumahan. Disebut rumahan, karena bisa digunakan publik untuk membuat ethanol dari limbah rumah tangga.

Bentuknya mirip dispenser bensin di SPBU. Cuma warnanya didominasi hijau dan putih dan menggunakan bahan yang sama dengan  mesin cuci,  jadi bobotnya relatif ringan.

Terdiri dari tiga bagian. Pertama, MicroFueler beroperasi dengan bantuan pendukung MicroFusion Reactor untuk mengurai sampah organik menjadi cairan frementasi dengan kandungan gula. Cairan tersebut lalu diolah lagi menjadi ethanol dan langsung bisa diisikan ke tanki mobi. Ringkaskan! 

Untuk proses produksi, mesin ini membutuhkan suplai air dan tenaga listrik 3 kWH atau sepersepuluh dari rata-rata konsumsi listrik harian rumah tangga. Dalam tujuh hari beroperasi, mesin ini mampu menghasilkan 70 galon atau 264,9 liter ethanol untuk dikonsumsi cuma-cuma. Nah, pasokan listrik harus menggunakan generator khusus disebut GridBuster. Ketiga komponen dijual terpisah, harga totalnya 30.000 dollar AS (Rp266,1 juta).

Sebenarnya, E-Fuel diluncurkan pertama kali pada 2008 dan menjadi salah satu produk unggulan kota asalnya, Los Gatos untuk mendukung proyek California sebagai negara bagian paling hijau di Amerika Serikat dan juga di dunia.

Tapi karena harganya lumayan mahal, penjualan tidak sukses. Konsumen utama E-Fuel sampai kini masih lingkungan Universitas dan departemen pemerintah yang punya dana lebih.

Sayang, masih minim kendaraan yang punya mesin kompatibel mengonsumsi Ethanol sampai 85 persen (E85). Sampai kini AS baru menetapkan standar konsumsi ethanol  E10.

Kalau dipasarkan di Brasil, dipastikan ada respon. Pasalnya, ethanol, E95 adalah bahan bakar utama di negara Samba tersebut.

Loading...

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read our FAQ page at fivefilters.org/content-only/faq.php
Five Filters featured article: Collateral Damage - WikiLeaks In The Crosshairs.

Komponen Penyebab "Recall" Honda City, Jazz, dan Freed

Posted: 18 Feb 2011 10:20 AM PST

Jumat, 18 Februari 2011 | 18:20 WIB

dhabob.com &dwolsten.tripod.com

Komponen utama mesin VTEC, yaitu tiga profil kem dan rocker arm (kiri) dan rocker arm dengan lost moving spring (kanan)

JAKARTA, KOMPAS.comLost moving spring adalah pegas yang digunakan untuk menekan pelatuk katup atau rocker arm pada mesin Honda yang menggunakan teknologi VTEC atau i-VTEC. Ukurannya kecil, jauh lebih kecil dari per klep. Per yang bermasalah, menurut keterangan Honda, hanya terjadi pada pelatuk katup yang ditugaskan bekerja pada putaran rendah.

Masalah yang terjadi menimbulkan bunyi berisik (abnormal). Bunyi timbul karena per tersebut patah atau bengkok. Kalau patah, menurut rilis Honda, akibat terburuknya adalah mesin mogok.

Bila teknologi VTEC Honda ini kita dalami lebih lanjut, untuk menggerakkan sepasang katup, digunakan tiga kem (cam) dan tiga pelatuk (rocker arm). Pelatuk bertugas meneruskan gerakan kem (menyundul) untuk selanjutnya menekan katup.

Ketiga kem punya profil dan tinggi berbeda. Kem pinggir digunakan untuk putaran rendah dan sedang. Selanjutnya, kem tengah digunakan untuk putaran tinggi. Kedua kem pinggir disebut "primer" dan tengah "sekunder". Bukaan pada kem terakhir lebih tinggi dan lama. Menurut insinyur senior Honda, untuk mesin 1,6 liter, tingkat angkat kem primer 5-6 mm, sedangkan sekunder 10 mm.

Penulis: Zulkifli BJ
Editor: Zulkifli BJ

Loading...

Kirim Komentar Anda

Kirim Komentar Anda

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read our FAQ page at fivefilters.org/content-only/faq.php
Five Filters featured article: Collateral Damage - WikiLeaks In The Crosshairs.

Diposkan oleh iwan di 15.02  

0 komentar:

Poskan Komentar